Guratan penulis



Dalam sebuah rapat-rapat angan
Diriku terpekik oleh pahitnya dunia
Ada rasa yang tidak bisa ku ungkapkan
Laksana hamba terhimpit hukum kerajaan

Aku tersadar dalam sebuah malam
Benarkah semuanya telah berlalu
Padahal hati masih membekas
Luka yang lebih dalam daripada tusukan pedang

Terbebani akan sebuah hasrat
Hasrat..
Hasrat yang seharusnya berkembang ke dalam rasa dan berubah menjadi cinta
Kasih sayang 
Rasa belas kasih yang ter amat suci
Sehingga lupa akan hinanya dosa

Tembok tua menyaksikan
Betapa berani nya mimpi menyelimuti khayal
Dimana pun kalian merebah
Tetap saja di hantui oleh nya

Suatu hari aku berjalan sendiri
Memandang indah wajah padi
Namun ia malu dan merunduk
Akupun berseri-seri

Dan padi pun menguning
Sementara esok masih berjalan
Di ikuti langkah riang para petani

Bukankah telah lama usai keberadaanku di dunia ini
Lalu perihal apakah langit terbentang di atas sana
Sekarang padi pun telah menghilang
Sementara bibit kecil baru saja di tanam

Ah.. Mungkin saja dia sedang mengigau
Hembusan nafas nya masih teratur
Hanya saja tubuhnya hilang entah kemana
Mungkin juga ada di bawah meja

Suara kerikil mulai menggigil
Mulutku bergerak tak beraturan
Bintang-bintang turun datang menyapa
Menanyakan kabar,
Dimana si bibit kecil yang mungil

Hariku terasa gelisah
Di kelilingi masa yang bergerak sangat cepat
Tiba-tiba datang petang
Semua-mua menghitam menjadi malam

Akupun terbangun lagi
Istriku tertidur pulas di sampingku
Aku bertanya kembali
Kapankah aku beristri

Aku tersadar dalam sebuah sore
Benarkah semuanya telah kembali
Padahal hati sudah terbebas
Tiada luka ataupun duka, pedangpun jua





By : Atakpembantai

Komentar

Kunjungi juga