THE kopi
The coffe on the Road
Sejenak saja aku ingin menikmati secangkir kopi.
Sejenak saja aku ingin mendalami malam ini.
Sejenak saja ku ingin menghirup udara sepi.
Sejenak saja ku ingin memandang indah rembulan.
Sejenak saja aku ingin menghabiskan gaji bulanan.
Sejenak saja aku ingin menjadikan nafsu tawanan.
Wahai serigala malam yang menggonggong jauh di sudut hatiku.
Dimanakah letak dari ketakutan petang.
Petang yang terus membayang menutupi mata.
Wahai arjuna pria yang tampan.
Dengan siapa kamu akan menikmati sebuah malam.
Bukankah 9998 selirmu akan cemburu jika kau bawa salah satu istrimu.
Dan apakah salah satu itu adalah aku atau diriku.
Sejenak saja aku ingin menikmati malam bersama secangkir kopi.
Sejenak saja aku ingin memandang rembulan di antara udara sepi.
Sejenak saja aku ingin menjadikan gaji bulanan sebagai tawanan.
Sepi, sepi dan sendiri aku benci.
Bosan aku dengan penat, enyah saja kau pekat.
Seperti halnya mentari dan fajarpun mulai menyingsing pagi.
Padahal baru saja kuteguk cairan hitam itu.
Namun samar-samar kulihat, cucu dari cucuku mulai bahagia atas kelahiran cucu ketujuh nya.
Dan persawahan yang baru kemarin kutanami padi, malah tumbuh menjadi bangunan tinggi yang seakan menantang langit.
Bagaimana ini, apa yang harus kumakan.
Mana mungkin aku memakan bangunan.
Padiku tak kembali, dan bangunan pun juga pergi.
Keherananku menumbuhkan syahwat pada bibir cangkir yang masih basah dan tampak sedikit hitam.
Kuputuskan meneguk air yang rasanya antara pahit dan manis itu tuk kedua kali.
Pikiranku pun mulai kabur seperti teracuni.
Dan samar-samar kudengar rintihan hati anak-anakku didalam tawa pecah mereka.
Siapa mereka?
Sejenak saja aku ingin bertanya.
Kenapa mereka?
Sejenak saja aku ingin menanyakan.
Dalam diam dan sunyi, tiba-tiba
Sejenak saja aku sudah tertidur pulas tanpa mengetahui kapan aku tertidur.
Dan Sejenak saja pula aku menyudahi tulisanku.
Komentar
Posting Komentar