Rindu Padang pasir & Padang rumput
Dalam limpahan rindu bersama hujan
Yang menyapu ke segala arah
Di ujung petangku
Menghabiskan sebatang rokok
Meniadakan hembusan nafas yang di ganti dengan asap
Prasangka menghantui dengan bingkisan rindu
Rindu pada siapa ?
Masih saja ku haturkan
Tak mengerti mengenai laju darah
Yang senantiasa mendidih oleh amarah
Amarah dari pengsakitan yang hanya di rasakan individual
Rindu akan arah hangat mentari pagi
Yang mungkin saja bukan pada dunia ini
Kapan para penambang rindu menuai hasil
Kapan sifat-sifat cinta menghilang
Dan di ganti oleh kebersamaan
Kapan kebersamaan terjadi pada sesiapa
Dan kapan deraan udara menjadi bunga yang berbunga-bunga
Dan tak hiraukan jikalau anggur bukanlah anggur
Karena rasa itu sudah sangat memabukkan ketimbang aroma nya
Di iringi gincu bidadari-bidadari dunia yang kian bertanya
" akankah daku salah satu bidadarimu di surga "
Tepuk tangan merpati meruah riah
Dan bukan lagi pedulikan hud-hud yang menyampaikan kabar indah
Pak sartono & suraji mulai mengaji & mengkaji
Kajian-kajian malam sunyi di terpa hujan dan badai
Dalam limpahan hujan yang menaungi rindu
Rindu akan sucinya kalbu
Agar esok nanti sanggup menerima cinta dari Maha Suci
Tentu saja cinta untuk mencintaimu
Bermawaddah bersamamu
Tanpa kecurigaan akan pria yang kau sembunyikan di lemari bajuku
Karena pria pencuri itu adalah diriku sendiri
Yang kau coba hianati namun tak pernah terjadi
Dan mengapa kau jatuh cinta padanya
Sementara diriku ini adalah wanita setia
Hempasan ombak pantai telah lama melupakan dilema
Antara aku dan rembulan dalam pangkuanmu
Di racuni oleh mawar hitam yang buluku bergidik sepi
Sementara tulang belulangku merengkuh nikmat ke dalam nafsu
Nafsu yang setiap hari kuberi makan minum
Nafsu yang setiap pagi ku ajarkan gembira
Agar diri yang mengawininya tak lagi berduka
Himpunan pasir di dalam lautan yang tak ku tahu jumlahnya
Layaknya himpunan laut di balik semesta yang tak ku tahu nalarnya
Aku
Yang tak lagi mengaku mencoba kembali mengakui kehadiran Mu
Kehadiran di antara setiap insan
Kehadiran di sela-sela langkah kaki mu
Lihatlah Tuhan
Wajah manis yang kau berikan padanya
Amatlah ku kagumi
Dan ingin sekali ku sanyangi & kumiliki
Mahar pantas apakah yang sanggup menyatukan ku dengan nya Tuhan
Terus saja ku merayu Nya untuk bersanding di sampingmu
Tak henti-hentinya aku berdoa di pungkasan sujudku
Hanya untuk mencintaimu & kamu mencintaiku
Namun daku tak sanggup memaksakan kehendak anak Adam
Jauh di lubuk rasamu
Kamu pasti mencintai seseorang yang sangat kau cintai entah itu siapa
Bunyi katak & jangkrik yang merdu
Mulai menertawakan puisi cintaku
HaHaHaHa
Apalah hal mau di kata
Dari sebuah manusia yang terlanjur terluka oleh panah asmara
Andai panah itu tepat mengenai sasaran nya
Mungkin tak kan sepedih ini drama yang di sandangkan rasa
Dan di sandingkan di antara jiwa-jiwa
Dan di sandungkan pada perasaan suka
Aku menyukai Mu
Tapi bukan kamu
Aku hanya di perasakan oleh Mu
Dan di hikmahkan dari goresan oleh pisaumu
Tapi kamu tetaplah makhluk yang anggun
Karna di berkahkan untuk naik ke puncak hatiku
Sayang nya kau memilih telanjang di sana
Padahal aku sudah menyiapkan baju-baju surga
Yang di tenun langsung oleh bidadari Nya
Dariku
Untuk angin yang tak sampai ke jendela rumahku
Tak usahlah berpura-pura jadi pria atau wanita
Biarkan saja semilir udara mencumbui mu setiap hari
Dan biarkan juga cemburunya padang pasir di hadapan padang rumput yang di cumbui padang ilalang
Suatu nanti rerumputan akan memeluk erat gurun pasir di padang mahsyar
Komentar
Posting Komentar